LP HAM RI News, TAKALAR — Artificial Intelligence (AI) bukan lagi teknologi yang berada jauh dari kehidupan pelajar. Di tengah derasnya arus digital, teknologi ini telah masuk ke ruang kelas, menjadi alat bantu belajar, sekaligus membuka peluang baru untuk berkreasi. Namun, di balik kemudahannya, AI juga membawa tantangan yang menuntut penggunanya lebih cermat.
Pesan itu disampaikan Polres Takalar melalui Tim Trainer dalam Program Paham Artificial Intelligence (AI) bagi siswa SMA, SMK, dan MA sederajat di Kabupaten Takalar. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 19–20 Agustus 2026, digelar di SMK Negeri 3 Takalar, Jalan Hamzah Daeng Tuppu, Desa Paddingin Raya (Paddinging), Kecamatan Sanrobone, Kabupaten Takalar.
Kegiatan dimulai pukul 08.30 Wita dan diikuti sekitar 68 siswa SMK Negeri 3 Takalar. Program tersebut merupakan tindak lanjut Quick Wins Presisi Triwulan III Tahun 2026, Kegiatan 9, dengan tujuan membekali pelajar agar mampu memahami perkembangan AI sekaligus menggunakannya secara positif, bijak, dan bertanggung jawab.
Tim Trainer Polres Takalar terdiri atas Kabag SDM Polres Takalar AKP H. Totok Rohyadi, Kasat Intelkam Polres Takalar AKP Andi Abdullah Aidid, S.H., M.M., Kanit PPA Ipda Saiful Majid, S.H., M.H., PS. Kasubsi PIDM Humas Polres Takalar Aipda Rahmat Ardiansyah, personel Bag SDM, serta personel Sat Binmas. Kegiatan turut dihadiri PS. Kanit Sosbud Aiptu Hasriadi, S.H., bersama para siswa peserta.
Materi yang disampaikan tidak berhenti pada cara mengenali dan memanfaatkan AI. Para siswa juga diajak memahami sisi lain dunia digital: keamanan siber. Mereka diperkenalkan dengan berbagai modus kejahatan yang kerap menyasar pengguna internet, mulai dari phishing, penipuan daring, pencurian akun, aplikasi APK berbahaya, judi online, penyebaran hoaks, hingga penipuan berkedok game dan giveaway.
Para siswa diingatkan bahwa kelengahan sekecil apa pun di ruang digital dapat dimanfaatkan pelaku untuk mencuri data pribadi, kode OTP, kata sandi, akses akun, bahkan uang. Dampaknya tidak hanya berupa kerugian finansial, tetapi juga dapat berujung pada pencurian identitas, terganggunya aktivitas belajar, hingga tekanan psikologis.
Karena itu, Tim Trainer membekali peserta dengan langkah-langkah sederhana namun penting: tidak sembarangan membuka tautan, menjaga kerahasiaan OTP, PIN, dan kata sandi, menggunakan kata sandi yang kuat serta autentikasi dua faktor (2FA), mengunduh aplikasi dari sumber resmi, dan melakukan verifikasi sebelum mempercayai sebuah informasi.
Jika menjadi korban atau menemukan indikasi kejahatan siber, siswa juga diarahkan untuk tidak panik. Bukti perlu disimpan, akun atau pihak mencurigakan dapat diblokir, kemudian persoalan segera disampaikan kepada orang tua, guru, maupun pihak yang berwenang.
Pemahaman peserta kemudian diukur melalui pre-test dan post-test. Evaluasi tersebut menjadi bagian dari upaya melihat sejauh mana materi yang diberikan dapat dipahami dan diterapkan oleh para siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Kabag SDM Polres Takalar AKP H. Totok Rohyadi saat dikonfirmasi disela-sela kegiatan mengatakan, perkembangan AI harus diikuti dengan peningkatan literasi digital. Menurutnya, pelajar perlu diarahkan agar tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu memanfaatkannya sebagai sarana belajar, menggali kreativitas, dan menghasilkan sesuatu yang positif.
“Kami ingin para pelajar memahami bahwa AI adalah alat yang bisa memberikan banyak manfaat apabila digunakan secara tepat. Teknologi ini seharusnya membantu proses belajar dan kreativitas, bukan justru membuat pelajar kehilangan sikap kritis dan tanggung jawab,” kata AKP H. Totok Rohyadi.
Ia menambahkan, kecakapan menggunakan teknologi harus berjalan beriringan dengan kesadaran menjaga keamanan diri di ruang digital. Para pelajar diminta lebih waspada terhadap berbagai modus kejahatan siber yang terus berkembang dan tidak mudah percaya terhadap informasi maupun tawaran yang datang melalui internet.
“Di dunia digital, kita harus selalu waspada. Jangan mudah memberikan data pribadi, OTP atau kata sandi, dan jangan sembarangan membuka tautan maupun mengunduh aplikasi. Kami berharap edukasi ini membuat pelajar lebih cerdas menggunakan teknologi sekaligus mampu melindungi dirinya dari ancaman kejahatan siber,” ujarnya.
Melalui program tersebut, Polres Takalar menempatkan literasi AI dan keamanan siber sebagai bagian dari upaya membangun generasi pelajar yang adaptif terhadap teknologi. Bukan sekadar mahir menggunakan perangkat digital, tetapi juga mampu berpikir kritis, menjaga keamanan diri, dan bertanggung jawab atas setiap aktivitasnya di ruang siber.
Asw-19
















